Langsung ke konten utama

Peka

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, "Mereka kehabisan anggur." (Yohanes 2:3)


Masyarakat pedesaan pada umumnya kental dengan jiwa persaudaraan. Ketika seorang warga hendak mengadakan hajatan, misalnya, tanpa diminta para tetangga akan datang membantu. 

Biasanya ibu-ibu akan sibuk membantu dalam urusan dapur atau biasa disebut dengan tradisi rewang. Jadi, para ibu datang tidak sekadar karena undangan, tapi mereka juga ikut membantu agar acara hajatan berjalan lancar sampai selesainya.

Bacaan Injil hari ini mengajak kita berkenalan dengan budaya orang Israel di zaman Yesus, khususnya tentang pesta pernikahan. Maria, Yesus, dan para murid-Nya menjadi tamu undangan dalam suatu pesta pernikahan. 

Sebagai ibu rumah tangga, Maria bukan sekadar hadir di pesta tetapi ia juga membantu di dapur. Maria tahu situasi dan kondisi yang ada di sana. Dan Maria tahu persis ketika persediaan anggur kian menipis. 

Maria peka dan sadar bahwa persoalan ini membuat tuan rumah berada dalam kesulitan. Maria tahu yang perlu dilakukannya: menceritakan masalah ini kepada Putranya, bukan kepada orang lain. Langkah Maria ini tepat, Yesus menyediakan anggur terbaik dan pesta berakhir baik.

Keteladanan seorang Maria mengingatkan kita untuk peka pada kesulitan yang sedang dihadapi orang lain. Peka dan sadar untuk melakukan sebuah tindakan yang bijak dan benar guna membantu seseorang keluar dari kesulitannya. 

Maria menceritakan masalah orang lain kepada orang yang tepat yaitu Yesus. Ia tidak menceritakannya kepada sembarang orang yang justru bisa saja memperburuk keadaan. 

Kiranya kepekaan hati yang Tuhan karuniakan kepada kita mendorong kita bertindak benar demi meringankan kesulitan orang lain. 

Penulis: Lesta Humendru


Note:
1. Tulisan ini juga tersedia dalam versi Bahasa Inggris yang ditampilkan di laman website resmi kami.
2. Dukunglah kami lewat doa dan uluran tangan saudara/i.
3. Jika saudara/i ingin menampilkan kesaksian rohani tentang Kasih Tuhan di blog kami, silahkan hubungi kami di WA. 082370748014 atau kirim via email Bang.lesta94@gmail.com
4. Jika ada saran dan masukan terhadap tulisan kami, silahkan kirimkan langsung kepada kami.
5. Kepada saudara/i yang ingin menyalurkan dukungan kepada kami, silahkan melalui rekening berikut:
BRI. 0176-01-068696-50-1 (an. Lestariaman Humendru)
6. Kami meminta saudara/i untuk membagikan tulisan kami kepada saudara/i yang lain, supaya kita masing masing mendapatkan wawasan, ilmu pengetahuan yang sama tentang kasih Allah kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERPISAHAN

PERPISAHAN Cinta Jika kau ingin pergi dariku Tolong tinggalkanlah sebuah narkoba Agar candunya menggantikan candumu Cinta Pikirkanlah sekali lagi Aku akan terluka Bila kau tinggalkan aku sendiri Cinta Bila kau pergi Tidak akan ada lagi cahaya Bahkan tak ada lagi semangat pada diri ini Aku tahu Aku lelaki paling sesat Yang tak tahu malu Mengharapkan kisah kita tak sesaat Cinta Aku mohon jangan kau pergi Karena kepergianmu akan menjadi luka Yang akan membuat banjir netra ini Cinta Aku tahu aku tak pantas mengharapkan apapun Bahkan mengharapkan restu dari papa dan mama Itu hanya sebatas angan dan lamun Namun cinta Percayalah padaku Jika kamu pergi dari ku Hidupku tak lagi berguna Dan bila kamu tetap pergi Aku akan tetap berdiri disini Memunguti kepingan hati Dan merawatnya sampai kau kembali Karya: Kanaya Ardellia Putri & Lesta Humendru

TAKUT KEMATIAN

Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka, "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi." ( Yohanes 11:44 ) Yesus Membangkitkan Lazarus Banyak ketakutan dialami manusia. Contohnya takut gelap, takut ketinggian, takut membuat kesalahan dan takut menderita kerugian. Dari semua ketakutan itu, ada satu ketakutan terbesar, yakni takut akan kematian. " Itu karena tidak ada orang yang punya pengalaman kematian , " seseorang menuturkan pendapatnya kepada saya. Meskipun diluar sana banyak asumsi dan banyak yang mengalaminya, namun cerita dari mereka masih belum kita rasakan. Bila kita mencari di seluruh dunia ini, tidak akan kita temukan seorang yang mampu memberi tahu bagaimana rasanya mati. Semua cerita tentangnya seakan hanya seperti dongeng belaka.  Manusia mayoritas memiliki sifat percaya setelah mengalami sesuatu. Makanya cerita tentang kematian...