"Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati." (1 Samuel 2:34)
Beberapa kali saya menyaksikan orang tua yang terlalu membela anak-anaknya. Ketika sang anak berkelahi dengan anak sebayanya, orang tua langsung membenarkan anaknya dan memarahi anak lain, tanpa sama sekali mempelajari duduk perkaranya.
Beberapa kali saya menyaksikan orang tua yang terlalu membela anak-anaknya. Ketika sang anak berkelahi dengan anak sebayanya, orang tua langsung membenarkan anaknya dan memarahi anak lain, tanpa sama sekali mempelajari duduk perkaranya.
Ketika ada orang yang menegur kesalahan anaknya, sebagian orang tua malah tidak terima. Jika pola asuh demikian terus dilakukan, sang anak akan bertumbuh tanpa belajar bertanggung jawab serta tidak menghargai siapa pun.
Sepertinya begitulah Imam Eli membesarkan kedua putranya, Hofni dan Pinehas. Ia terlalu mengasihi mereka, namun dengan cara yang salah. Ia tidak menegur kesalahan mereka.
Sepertinya begitulah Imam Eli membesarkan kedua putranya, Hofni dan Pinehas. Ia terlalu mengasihi mereka, namun dengan cara yang salah. Ia tidak menegur kesalahan mereka.
Ia mengabaikan teguran banyak orang. Akibatnya mereka bertumbuh tanpa aturan. Tidak menghormati Tuhan. Tidak menghargai sesama. Tidak peduli soal kebenaran.
Mereka hidup hanya demi kesenangan sendiri. Ironisnya, mereka adalah imam-imam Tuhan, yang bertugas mempersembahkan korban, menjadi perantara umat Israel dengan Allah.
Lalu Allah mengutus seorang nabi. Ia tidak lagi membawa teguran atau peringatan, melainkan penghukuman. Vonis sudah ditetapkan. Keluarga Eli tidak diperkenankan-Nya lagi untuk melayani mezbah. Bahkan kedua putranya itu akan mati di hari yang sama.
Tuhan memakai orang-orang di sekeliling kita; orang tua, teman, rekan kerja, hamba-hamba Tuhan, siapa saja untuk menegur dan memperingatkan kita. Melalui mereka, Allah ingin kita bertobat dan kembali menaati Tuhan.
Lalu Allah mengutus seorang nabi. Ia tidak lagi membawa teguran atau peringatan, melainkan penghukuman. Vonis sudah ditetapkan. Keluarga Eli tidak diperkenankan-Nya lagi untuk melayani mezbah. Bahkan kedua putranya itu akan mati di hari yang sama.
Tuhan memakai orang-orang di sekeliling kita; orang tua, teman, rekan kerja, hamba-hamba Tuhan, siapa saja untuk menegur dan memperingatkan kita. Melalui mereka, Allah ingin kita bertobat dan kembali menaati Tuhan.
Namun jika kita mengabaikannya, maka sebenarnya kita telah memilih penghukuman-Nya. Kiranya kita belajar dari keluarga Eli, termasuk dalam mengasuh anak-anak kita.
Penulis: Lesta Humendru
Note:
1. Tulisan ini juga tersedia dalam versi Bahasa Inggris yang ditampilkan di laman website resmi kami.
2. Dukunglah kami lewat doa dan uluran tangan saudara/i.
3. Jika saudara/i ingin menampilkan kesaksian rohani tentang Kasih Tuhan di blog kami, silahkan hubungi kami di WA. 082370748014 atau kirim via email Bang.lesta94@gmail.com
4. Jika ada saran dan masukan terhadap tulisan kami, silahkan kirimkan langsung kepada kami.
5. Kepada saudara/i yang ingin menyalurkan dukungan kepada kami, silahkan melalui rekening berikut:
BRI. 0176-01-068696-50-1 (an. Lestariaman Humendru)
6. Kami meminta saudara/i untuk membagikan tulisan kami kepada saudara/i yang lain, supaya kita masing masing mendapatkan wawasan, ilmu pengetahuan yang sama tentang kasih Allah kita.
Komentar
Posting Komentar